Porto

Filosofi Seksualitas Lingga-Yoni Pada Bangunan Monas dan Gedung DPR/ MPR

Beberapa hari lalu di rumah dinas pimpinan DPR/ MPR di Jalan Denpasar Raya, saya dan salah satu selebtwit, Benedictus “Vani” Tambajong berbincang ringan dengan Wakil Ketua MPR, Mahyudin. Sambil menyeruput teh hangat ditemani beberapa penganan ringan, kami berdiskusi banyak hal, dari urusan politik seputar musyawarah nasional luar biasa (munaslub) Golkar hingga seputar aktivitas parlemen seperti program legislasi DPR dan sosialisasi 4 pilar MPR. Hingga sampailah kami pada sebuah topik menarik yang begitu bersemangat diceritakan politisi muda Golkar ini, yaitu: Filosofi Seksualitas Lingga-Yoni pada Bangunan Monumen Nasional (monas) dan Gedung DPR/ MPR. Wah! Ini menarik untuk menjadi artikel kompasiana, segera saya ambil pena dan mencari kertas untuk menuliskannya.


Awalnya, rencana pembangunan Monas oleh Soekarno adalah untuk merekam aksi patriotisme bangsa dalam melawan penjajahan melalui tugu peringatan yang lebih megah dari menara Eiffel. Selain itu, untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara agraris. Dimana ada filosofis cawan sebagai perlambang lumpang dan batang tugunya sebagai perlambang alu. Lumpang dan alu ini digunakan para petani untuk menumbuk padi agar mengelupas menjadi beras. Ya, beras adalah kebutuhan pokok bangsa Indonesia dan padinya ditanam di berbagai sawah petani di tiap pelosok negeri. Sebuah penggambaran sempurna tentang kesuburan tanah air Indonesia.


Tapi, kentalnya pengaruh budaya Hindu membuat filosofi itu bergeser sedikit. Perlambang kesuburan itu bukan lagi lumpang dan alu melainkan Lingga dan Yoni. Lingga adalah perwujudan alat vital laki-laki (phallus) dan Yoni adalah perwujudan alat vital perempuan (vagina). Tentu saja wujud kedua lambang tersebut tidak ditampilkan secara nyata, tapi unsur seksualitasnya dibuat samar.


Monas adalah perlambang Lingga, mewakili maskulinitas sosok ayah yang seorang laki-laki. Itulah kenapa Monas dibangun trio arsitekturnya; Soedarsono, Rooseno dan Silaban di dekat Istana Merdeka sebagai pusat kekuasaan. Monas mewakili sosok eksekutif, yang bekerja keras untuk kebahagiaan rakyat Indonesia sebagai anak-anaknya. Itulah kenapa di puncak Monas ada nyala api perunggu berlapis emas sebagai simbol “Dian Yang Tak Kunjung Padam” yang artinya semangat yang selalu menggelora.


Sedangkan perlambang Yoni yang mewakili feminimitas sosok ibu yang seorang perempuan adalah Gedung DPR/ MPR. Dulunya, bernama Gedung Conference of New Emerging Force (Conefo) karena digunakan Soeharto untuk mengumpulkan negara-negara berkembang sebagai reaksi pembentukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Coba, perhatikan baik-baik bentuk bangunan Nusantara DPR/ MPR yang memiliki unsur vagina dan labium mayora-minora. Benar-benar mewakili sosok ibu (legislatif) yang melahirkan undang-undang untuk kemudian dijadikan pegangan sebagai sang ayah (eskekutif).


Fakta-fakta itu membuat kami tercekat, penganan pun tak menarik lagi untuk disantap. Begitu dalam filosofi Lingga-Yoni yang terkandung dalam pembangunan kedua bangunan tersebut. Jauh berbeda dengan bangunan-bangunan modern yang turut hadir di seantero Jakarta, yang miskin filosofis. Sekedar dibangun mewah tanpa nilai-nilai yang bisa dimaknai didalamnya. Tak ubahnya tumpukan kardus. Mahyudin pun melanjutkan penuturannya...


Idealnya perpaduan Lingga dan Yoni akan menghasilkan kesuburan dan kemakmuran. Itu pula yang diharapkan Soekarno, keharmonisan hubungan antara Monas sebagai Lingga (eksekutif) dengan Gedung DPR/ MPR sebagai Yoni (legislatif) akan memacu kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai anak-anaknya. Monas dan Gedung DPR/ MPR adalah perlambang kasih sayang para pemimpin bangsa ini sebagai orang tua untuk seluruh warga negara Indonesia sebagai anak-anak kandungnya. Sebuah filosofi seksualitas yang manis dari Soekarno untuk dapat selalu kita kawal dan yakini kebenarannya dari masa ke masa.


SUMBER

Bagikan Post


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar