Porto

Inilah Solusi Ideal Sistem Pemilu 2019 Ala Mahyudin

MPR RI ikut berkomentar soal ramainya tarik-menarik pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu. Sistem kombinasi terbuka-tertutup disarankan menjadi solusi yang paling ideal. Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin usai melakukan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang, Rabu (26/10). Saat membuka acara di lantai III, Gedung Fakultas Hukum Unissula, Semarang, Mahyudin didampingi oleh anggota MPR RI dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso dan Mujib Rohmat.

“Solusi yang paling ideal untuk saat ini adalah kombinasi antara sistem terbuka dan tertutup. Jadi ada sebagian kursi yang dipilih secara terbuka dan sebagian lain dipilih secara tertutup,” ungkap Mahyudin, Wakil Ketua MPR RI kepada wartawan, Rabu (26/10). Politisi muda Partai Golkar itu juga membeberkan, sebenarnya pemilu yang ideal menurut dirinya pribadi adalah tertutup dari pada terbuka. Bila sistem terbuka, masyarakat dibawah benar-benar terjadi perang Bharathayuda, jadi serangan itu sudah luar biasa. “Jadi kalau dikita ada istilah berjuang (beras, baju dan uang, red), itu yang bermain dan tidak lagi memilih wakil rakyat yang qualified (bagus, red). Ada yang bagi-bagi sembako bisa kalah yang pintar dan akibatnya politik berbiaya tinggi dan berimbas penurunan kualitas dari pada DPR,” tutur Mahyudin.

Kecuali, sambung Mahyudin, masyarakat Indonesia sudah siap dari segi pendidikan dan politiknya baik serta bagus. Memilih berdasarkan kualitas dan latar belakang, itu sangat baik untuk memilih dengan sistem secara langsung. “Bila saat ini memilih secara langsung itu terjadi bagi orang yang punya duit, ada nama, terkenal bila di Jabar itu istilahnya ‘geulis dan kasep’. Apakah nanti dia bermutu di DPR tidak urusan,” imbuhnya.

Bila ada kabar berita, lanjutnya, terkait proses sidang paripurna itu kosong, karena tidak banyak anggota DPR yang hadir, maka jangan disalahkan, karena itu masyarakat juga yang memilih. Sekali lagi, kata Mahyudin, saat ini idealnya tertutup. Namun, bila masyarakat sudah objektif dan siap, maka yang paling lebih ideal adalah sistem terbuka. “Bila masyarakat pemilih sudah bisa objektif dan siap okelah sistem terbuka. Namun, sekarang menurut saya lebih baik tertutup,” tandas Wakil Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar ini.

Bagikan Post


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar