Porto

Mahyudin di Mata Seorang Benedictus Tambajong

Bulan September 2013 saya mendatangi sebuah rumah di Jalan Darmawangsa, Jakarta. Pertemuan yang begitu singkat tapi tepat waktu bersama politisi muda Golkar, Mahyudin  di depan sebuah kolam, berdiskusi sambil ditemani teh hangat. Sebagai kader Partai Golkar Balikpapan saya merasa dihargai oleh seorang Ketua DPP Partai Golkar. Diskusi kami seputar pencalegan, sayangnya saya bukan caleg alias masih “dibawah standar”. Ini adalah jawaban singkat saat Mahyudin menanyakan tentang saya. Dibenak saya, ini saatnya membuktikan diri walaupun masih “dibawah standar” tapi dapat berbuat maksimal. Tawaran Mahyudin menjadi salah satu koordinator tim sukses dirinya sebagai caleg DPR-RI dapil Kalimantan Timur-Kalimantan Utara saya sanggupi. Kenapa?


PERTAMA: Mahyudin adalah sosok manusia langka yang memilih hal kontroversi, sebagaimana ia menunjuk saya sebagai salah satu ketua koordinator tim sukses pencalegannya .Bukankah saya masih dibawah standar, terbukti dengan tidak masuk dalam pencalegan DPRD Kota Balikpapan? Apa dasar pertimbangan Mahyudin memilih saya dari semua kriteria tentu hanya biasa biasa saja.


KEDUA: Mahyudin diusia mudanya dapat memberikan kesempatan berkarya bagi kader seperti saya “dibawah standar”. Mahyudin memberikan kesempatan bagi siapa saja asalkan memiliki komitmen jelas dan mau berkerja serius. Sekembalinya dari Darmawangsa terpikirlah beberapa langkah mengawali pekerjaan yang membutuhkan jaringan luas. Menjadi tim sukses tentu saya harus memulai dengan pengumpulan data-data terkait sosok Mahyudin. Setelah itu saya mulai mengajak beberapa kawan yang tidak berpartai untuk menjadi Relawan Mahyudin. Tentu langkah ini saya lakukan agar tak ada kesan “hanya ganti baju” pengkaderan harus saya mulai dari mereka yang belum mengenal Partai Politik. Menjabat dalam struktur DPD II Partai Golkar Balikpapan sebagai Wakil Sekretaris bidang Organisasi dan Kaderisasi tentu saya harus melakukan “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”. Artinya dengan bermodal kepercayaan sebagai koordinator tim relawan Mahyudin untuk pencalegan dirinya, saya juga harus melakukan tugas tugas kepartaian yang teremban.


Setelah beberapa langkah tersebut saya lakukan tentu harus mulai membangun citra tim sukses dengan seragam khas “Mahyudin”. Setelah pertemuan Darmawangsa untuk kedua kalinya Mahyudin mengajak saya dan tim Relawan Mahyudin bertemu dengannya agar lebih mengenal “Mahyudin” dari dekat. Usai memberikan arahan di resto bandara Sepinggan Balikpapan Mahyudin bertanya dana siapa yang dipakai untuk mengadakan kemeja seragam khas “Mahyudin”.”Jangan gunakan danamu untuk kepentingan saya”, sambil membuka tas khas “Mahyudin” diberikannya dana pengganti dan tambahan dana operasional untuk memulai “Penggalangan”.


KETIGA: Mahyudin tidak menggunakan jabatan sebagai Ketua DPP Partai Golkar untuk dukungan materi pihak lain untuk kepentingannya. Peristiwa kebakaran di Kampung Baru Kecamatan Balikpapan Barat kami memulai kegiatan Relawan Mahyudin untuk turut membantu saudara saudara kita di 4 RT yang sedang mengalami musibah kebakaran. Mahyudin sepakat melakukan kegiatan yang saya usulkan, termasuk tidak menggunakan “Lambang” atau “Bendera Golkar dalam kegiatan Posko Bantuan Kebakaran Relawan Mahyudin. Pertimbangan yang saya usulkan tersebut tentu dengan dasar kuat, tak harus kita memanfaatkan musibah untuk sebuah “pencitraan”.Terpenting adalah ketulusan membantu saudara saudara kita yang sedang alami musibah kebakaran, tercermin keikhlasan tanpa berharap pujian.


KEEMPAT: Mahyudin tidak memanfaatkan musibah untuk sebuah Pencitraan dirinya, bantuan atas dasar ketulusan, keikhlasan adalah syarat mutlak demi untuk sesama. Bagi Mahyudin tak perlu menyerang seseorang dengan slogan tapi menggapai kemenangan dengan cara cara yang elegan. Bahkan dalam sosialisasi beberapa usulan saya agar bersosialisasi secara bersama dengan Caleg Provinsi maupun Kota/Kabupaten pun disetujui. Mahyudin ingin menciptakan Soliditas Partai bukan Rivalitas antar Caleg Partai Golkar. Ia memiliki cita cita membesarkan partai, tanpa melihat kepentingan untuk diri pribadi semata.


KELIMA : Mahyudin tidak menginginkan terjadi Bellum Omnium Contra Omnes diantara para Caleg Partai Golkar. Semoga hari hari tenang menjelang Pemilihan Anggota legislative tanggal 9 April 2014 akan dapat menjadi renungan.Layaknya teori disusun berdasarkan anggapan bahwa sebelum ada negara, manusia hidup sendiri-sendiri dan berpindah-pindah. Pada waktu itu belum ada masyarakat dan peraturan yang mengaturnya sehingga kekacauan mudah terjadi di mana pun dan kapanpun. Tanpa peraturan, kehidupan manusia tidak berbeda dengan cara hidup binatang buas, sebagaimana dilukiskan oleh Thomas Hobbes: Homo homini lupus dan Bellum omnium contra omnes. Kita butuh Pemimpin yang dapat menghapus rasa takut,semoga kelak Republik ini dapat memilih pemimpin yang amanah,juga kekuatan Legislatif yang solid menjalankan amanah yang diwakilinya.Menulis tentang Mahyudin tentu bukan untuk saya mendapat pujian,perjalanan Mahyudin masih panjang semoga tetap amanah.


SUMBER

Bagikan Post


Artikel Terkait

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar