Porto

Mahyudin: Jangan Mempolitisir Pancasila!

Tiap bangsa harus memiliki konsepsi dan konsensus bersama terkait hal-hal fundamental bagi keberlangsungan, keutuhan dan kejayaan bangsanya. Tiap bangsa memiliki konsepsi dan cita-citanya sendiri sesuai kondisi, tantangan dan karakteristik bangsanya. Indonesia, melalui para founding fathers menjawab tantangan tersebut dengan melahirkan konsepsi kebangsaan dan kenegaraan, antara lain dasar negara, konstitusi negara, bentuk negara dan wawasan kebangsaan.


Pancasila sebagai dasar negara merupakan karya bersama yang dihasilkan melalui konsensus bersama. Pancasila merupakan titik temu (common denominator) yang menyatukan keindonesiaan. Dengan demikian, jelas bahwa penetapan tumusan Pancasila merupakan hasil final, yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan kebangsaan.


Pancasila, secara yuridis ketatanegaraan adalah dasar negara, sebagaimana terdapat dalam pembukaan UUD NRI tahun 1945 yang kelahirannya ditempa dalam proses perjuangan kebangsaan Indonesia. Tiap sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral. Ketuhanan dijunjung tinggi dalam kehidupan bernegara, tapi diletakkan dalam konteks negara kekeluargaan yang egaliter, yang mengatasi paham perseorangan dan golongan; selaras dengan visi kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan kebangsaan, demokrasi permusyawaratan yang menekankan konsensus serta keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.


Memaknai Pancasila berarti menegaskan komitmen bahwa nilai-nilai Pancasila adalah dasar dan ideologi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila bukanlah konsep pemikiran semata melainkan sebuah perangkat tata nilai untuk diwujudkan sebagai panduan dalam berbagai segi kehidupan. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila harus menjadi landasan etika dan moral ketika kita membangun pranata politik, pemerintahan ekonomi, pembentukan dan penegakan hukum, politik, sosial budaya dan berbagai aspek kehidupan lainnya.


Aktualisasi nilai-nilai Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, konflik sosial yang berkepanjangan, sikap intoleransi dan kecenderungan penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, berkurangnya sopan santun dan budi pekerti luhur dalam pergaulan sosial, melemahnya kejujuran dan sikap amanah dalam kehidupan berbangsa serta pengabaian terhadap ketentuan hukum dan peraturan.


Kondisi demikian disebabkan faktor internal, yakni lemahnya penghayatan dan pengamalan agama; sistem sentralisasi pemerintahan masa lalu menimbulkan fanatismee kedaerahan; tidak berkembangnya pemahaman kebhinnekaan; ketidakadilan ekonomi dalam kurun waktu yang panjang; kurangnya keteladanan; tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal; keterbatasan budaya lokal, daerah dan nasional dalam merespon pengaruh dari luar; meningkatnya prostitusi, media pornografi, perjudian dan narkoba; pemahaman dan implementasi otonomi daerah menyimpang dari amanat konstitusi.


Sementara faktor eksternal yakni pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin luas dengan persaingan bangsa yang semakin tajam dan semakin kuatnya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional. Selain itu pengaruh orde baru yang sedikit banyak dituding telah menjadikan Pancasila sebagai alat politik dan legitimasi kekuasaan menyebabkan penolakan terhadap Pancasila yang dianggap sebagai bagian dari produk orde baru.


Haruskah kita meninggalkan Pancasila? Tidak! Yang harus kita tinggalkan bukan Pancasila, tapi sikap-sikap mempolitisir Pancasila menjadi alat kepentingan kekuasaan. Ketika lembaga negara memberangus kebebasan berpendapat dengan mengatasnamakan Pancasila, maka neagara telah menjadikan Pancasila sebagai legitimator tindakan-tindakannya. Padahal, Pancasila sejatinya mengakomodir kebebasan berpendapat. Sebagaimana Bung Karno katakan saat berpidato di hadapan BPUPKI “Kita garisbawahi istilah WeltanSchauung (pandangan hidup). Kita harus kembalikan Pancasila bukan dalam makna politis melainkan sebagai filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia karena Pancasila adalah nilai-nilai yang digali dalam sikap kehidupan Bangsa Indonesia sejak sebelum merdeka”


(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah MAJELIS, edisi no. 02/X/Februari 2016)

Bagikan Post


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar