Porto

Mahyudin Kedepankan Politik Bersih dan Santun di Munaslub Golkar 2016

Sejak mendeklarasikan diri sebagai kandidat calon ketua umum Partai Golkar pertama pada 13 Februari 2016 lalu, Mahyudin sudah menyatakan diri akan menghindari money politics. Karena politik uang menurutnya hanya akan merusak moral kader dan merendahkan marawah partai. “Saya mampu tapi tak mau. Banyak yang menawarkan tapi saya enggan karena nanti Golkar tergadaikan politik balas budi” kata Wakil Ketua MPR ini.


Mahyudin tak ingin Partai Golkar punya “hutang” yang harus “dibayar” selama dirinya menjabat sebagai Ketua Umum. Akhirnya terbentuk kartelisasi parpol untuk meraih semua keinginan pihak-pihak yang berkepentingan saja. “Politik itu tujuan akhirnya kekuasaan, tapi alangkah eloknya jika diraih dengan cara bersih. Jika caranya baik maka hasil yang didapat juga yang terbaik” kata Mahyudin. Disinggung mengenai Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN), Mahyudin mengaku sudah melaporkannya ke KPK. “Sudah! Itu kewajiban saya sebagai pejabat di lembaga tinggi negara. Bukti komitmen saya terhadap pemberantasan korupsi” kata Mahyudin.


Selain kedepankan politik bersih, Mahyudin juga mendukung himbauan politik santun yang pernah disampaikan ARB. “ARB minta hindari saling hujat dan kedepankan lobi sesama kandidat. Saya setuju! Makanya, walau pernah jadi korban Black Campaign dari kandidat lain saya tak membalasnya. Biarkan saja!” kata mantan Bupati Kutai Timur ini. Mahyudin pun menggagas Koalisi Nusantara bersama 3 kandidat calon ketua umum lainnya, yaitu Syahrul Yasin Limpo, Airlangga Hartarto dan Azis Syamsuddin. “Penjajakan itu penting, jika visi-misi bisa diselaraskan bukan tak mungkin bersatu. Siapapun yang akan dimajukan dalam kontestasi nanti dari koalisi ini yang terpenting adalah persatuan.” Pungkasnya.

Bagikan Post


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar