Porto

Sebut Sistem Tertutup Kemunduran Demokrasi, Mahyudin Sarankan Kombinasi

Wakil Ketua MPR Mahyudin menilai saat ini kerap terjadi politik uang di lapangan sehingga biaya demokrasi melambung tinggi. Karenanya, Mahyudin mengusulkan agar pemilu menggunakan sistem terbuka terbatas. "Sistem yang ada sekarang cukup bagus. Hanya saja, di lapangan terjadi persaingan kampanye yang luar biasa. Sehingga kondisi ekonomi yang kurang baik menimbulkan efek samping lain, seperti money politics yang mengakibatkan demokrasi berbiaya tinggi," ujar Mahyudin.

Perpaduan sistem terbuka dan tertutup dinilai tepat untuk saat ini. Mantan Bupati Kutai Timur ini berharap adanya peraturan yang mengatur pembatasan biaya kampanye. "Saya usulkan sistem campuran, perpaduan tertutup dan terbuka. Akan menarik! Yang terpenting ada aturan yang mengatur pembatasan biaya kampanye sehingga demokrasi tidak berbiaya mahal," lanjut Mahyudin.

Seperti diketahui, dalam sistem tertutup, pemilih hanya diminta mencoblos lambang partai, tanpa daftar nama calon anggota legislatif (caleg). Sedangkan dalam sistem terbuka, nama-nama caleg juga terpampang.

Mahyudin tak bisa menampik bahwa idealnya Indonesia menggunakan sistem pemilu terbuka. Namun dia mengatakan Indonesia belum sepenuhnya siap menerapkan sistem itu. "Tapi kalau (sistem) tertutup itu kemunduran demokrasi. Demokrasi bagusnya dilaksanakan bertahap sesuai kondisi aktual," ujar politikus muda Golkar ini.

"Sehingga partai sebagai lembaga pengkaderan bisa menyiapkan kader terbaik di parlemen. Kalau dengan terbuka, itu mengakibatkan partai sulit mengirim kader terbaik di parlemen. Karena semua balik ke mekanisme pasar, siapa yang bermain kuat, dia pemenangnya," pungkas legislator asal dapil Kalimantan Timur ini. 

Bagikan Post


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar