Porto

Sejarah Masa Depan Partai Golkar Dalam Perspektif Mahyudin

Adalah intelektual Iran Ali Syariati yang mengenalkan istilah sejarah masa depan, untuk menggambarkan proyeksi peristiwa mendatang. Atau bisa diartikan sebagai rancangan peristiwa yang bakal terjadi yang akan menjadi mata rantai sejarah.


Sejarah masa depan merupakan ikhtiar agar hari depan dapat mengukir prestasi dan pantas dicatat sejarah. Tentu peristiwa gemilangan dan kejayaan yang terus menerus diikhtiarkan. Dalam konteks ini penulis menuangkan pemikiran bagi Partai Golkar agar mampu melewati rute sejarah Bangsa dan Negara Indonesia. Sebagai partai politik yang telah melalui jalan panjang dalam sejarah sosial-politik Indonesia, Partai Golkar mesti secara kontinyu menjadi bagian penting dari material bagi terbentuknya peradaban Indonesia.


Peradaban bangsa yang telah memilih sebagai Negara republik yang berarti memilih demokrasi sebagai sistem sosial politik dan budaya. Suara rakyat menjadi ruh dalam keseluruhan gerak sistem yang dipilih, dibangun dan dikembangkan. Partai Golkar menempatkan posisi paralel dengan tujuan Negara Kesatuan RepubliK Indonesia. Tujuan Partai Golkar ialah membantu dan menyokong eksistensi Negara dan bangsa Indonesia untuk memenuhi mimpi dan cita-cita didirikannya, sebagai Negara merdeka dan berdaulat. Berdaulat secara politik, secara ekonomi dan berdaulat secara kebudayaan.


David Reeve seorang Indonesianis dari Australia mengemukakan, bahwa Golongan Karya adalah kelompok fungsional yang keberadaannya berakar dari perdebatan-perdebatan dalam BPUPKI dan PPKI dalam merumuskan konsep-konsep dasar pendirian Negara Republik Indonesia. Maka muncullah dalam UUD 45 yang disahkan diakomodir keberadaan golongan yang berhak mewakili rakyat berada di parlemen. Namun kelak keberadaan golongan ini dihapuskan dalam rangkaian amandemen UUD 1945. Karena sekarang kita menganut sistem politik bicameral; dengan DPD dan DPR, dan MPR sebagai lembaga join session.


Golongan Karya merupakan himpunan seratusan lebih organisasi kemasyarakatan non partai yang mempunyai perspektif yang sama; non partai dan anti komunis, melakukan penggalangan dengan mendirikan Sekber Golkar pada tanggal 20 Oktober 1964. Tujuan penggalangan ini, setidaknya ada dua hal; pertama untuk menjadi kekuatan alternatif dari perseteruan sengit partai politik di masa Orde Lama yang terpola dari perbedaan aliran ideologi.


Konflik ideologi di masa itu sangat mengkuatirkan keutuhan Negara bangsa yang masih belia itu. Kedua karena kekuatan komunis yang pesat, Sekber Golkar menjadikan kekuatannya untuk menghadang barisan komunis. Dari tujuan di atas Sekber Golkar menginisiasi pembaharuan kehidupan politik yang jumud akibat pertentangan politik aliran. Sekber Golkar mendambakan kehidupan nasional yang majemuk dan terbingkai dalam persatuan. Bhinneka Tunggal Eka.


Setahun setelah kelahiran Sekber Golkar meletuslah peristiwa G30S/PKI yang akhirnya menjadi prolog berakhirnya era Bung Karno dan memasuki babak baru di era Pak Harto. Sekber Golkar dipilih Pak Harto menjadi kekuatan Golongan yang dapat mengikuti pemilihan umum. Mulai 1971 hingga 1997 Golkar selalu memenangkan pemilu sebgai single majority. Selama kurun 6 kali pemilu Golkar memenangkan pemilu dengan topangan penuh pemerintahan Orde Baru.


Reformasi kembali mengubah Golkar ke Partai Golkar. Paradigma baru mengubah Partai Golkar menjadi kekuatan politik yang mendukung demokratisasi. Partai Golkar tidak dapat lagi diskresi dari pemerintah melalui UU politik. Partai Golkar sejajar dengan semua partai politik yang dijamin UU. Dalam kurun pemilu reformasi Partai Golkar menang di pemilu 2004 dan nomer dua di pemilu 1999, 2009, dan 2014. Kalau dibandingkan dengan capaian Orde Baru memang sangat jauh. Dari pemenang single majority menjadi nomer 2, dan kalaupun menang di 2004 dengan simple majority. Tetapi membandingkan hal demikian kuranglah tepat, karena suasana yang melingkupi sangatlah berbeda. Era Orde Baru yang tertutup dengan era reformasi yang terbuka. Justru tidak sedikit banyak kalangan yang memuji ketangguhan Partai Golkar dalam melewati masa-masa transisi.


Bagaimana sejarah masa depan Partai Golkar? Poin inilah yang sangat penting untuk dijawab setiap kader. Menurut penulis, bukan hanya Partai Golkar membutuhkan kemenangan pada setiap hajatan pemilu. Tetapi proses pembentukan peradaban Indonesia juga membutuhkan visi dan karakter kebangsaan dan kekaryaan yang dimiliki Partai Golkar. Seperti disebutkan di atas, bahwa karakter pembaharuan, kemajemukan, kekaryaan pada Sekber Golkar merupakan karakter yang diminta Indonesia dalam membentuk peradabannya. Tujuan Partai Golkar yang selaras dengan tujuan Negara merupakanimportant vision sebagai energi bagi berlayarnya kapal Indonesia raya.


Di era reformasi dengan keterbukaanya, telah menjadi lahan subur bagi menjamurnya organisasi dan partai politik. Segala macam aspirasi, pandangan dan kepentingan saling berebut tempat di panggung kehidupan social-politik Indonesia. Segala ragam tersebut tentulah merupakan potensi dan energi positif bagi konfigurasi keindonesiaan selagi selaras atau tidak bersebrangan dengan tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia. Namun akan menjadi beban dan masalah tersendiri jika kelompok dan organisasi tersebut mencita-citakan dan bertujuan yang bertabrakan dengan republik. Trauma dengan konflik ideoloiogi di -era Orde Lama yang menjadi sumber kekacauan harus diatasi. Sehingga keragaman itu merupakan bunga-bunga indah yang mengisi taman Indonesia.


Organisasi yang tidak dikelola dengan baik juga menjadi beban bagi republik. Organisasi yang menyuburkan praktek korupsi atau berkonflik secara brutal juga menjadi beban bagi proses pembentukan keindonesiaan. Dari hal demikian maka Partai Golkar harus menjadi organisasi yang sehat dan profesiaonal sebagai partai politik. Dengan tujuan yang baik, dengan pengelolaan yang baik pula adalah kontribusi partai politik dalam membangun demokratisasi. Partai Golkar membutuhkan kemenangan pada setiap pemilu; baik untuk memperkuat eksistensinya di panggung politik, lebih jauh adalah memperoleh kesempatan untuk berperan aktif dalam melahirkan kebijakan pembangunan. Dengan tujuan yang baik, dengan managemen yang professional, dengan dukungan rakyat yang kuat maka Partai Golkar akan menjadi kekuatan yang dibutuhkan untuk memajukan peradaban Indonesia.


Intropeksi untuk Melangkah

Belakangan ini publik diramaikan dengan permasalahan partai politik, termasuk Partai Golkar yang dirundung perselisihan. Setelah melewati jalan berliku, lantas disepakati perdamaian dan melakukan consensus. Para pemimpin Partai Golkar di semua level; pusat maupun daerah, harus melakukan intropeksi atau mawas diri agar ditemukannya sebuah pelajaran dan hikmah. Sungguh sangatlah merugi, jika telah terjadi peristiwa besar namun kita tak mampu mengambil pelajaran. Mempelajari hal yang telah lalu untuk menyusun masa depan adalah pepatah kuno yang selalu relevan bagi setiap manusia yang mengikhtiarkan kemajuan.


Dari sejarah berdirinya Sekber Golkar, lantas Golkar di Orde Baru, beralih ke Partai Golkar di era reformasi adalah tahapan sejarah yang niscaya dicermati. Seluruh kader Partai Golkar harus kembali bangkit dan saling membahu untuk membesarkan partai. Tidak ada yang pasti di dunia ini selain perubahan itu sendiri. Sejarah masa depan Partai Golkar ditentukan oleh para kader, dan pemimpinnya dalam mengelola organisasi. Tanpa pengelolaan yang modern dan professional sebuah partai akan tenggelam dalam jurang sejarah politik Indonesia.


Munaslub yang akan dilaksanakan Partai Golkar mendatang, haruslah momentum bagi pembenahan partai. Kearifan, toleransiataskeragaman, visi yang kuat akan cita-cita bernegara harus terwarnai dalam gelaran Munaslub. Partai Golkar juga membutuhkan suasana persatuan dan rekonsiliasi, disamping regenerasi, untuk menghidupkankembali sel-sel organisasi yang tertidur selama ini. Pemimpin yang dilahirkan ke depan juga mesti nyambung dengan kebutuhan internal organisasi dan eksternal organisasi yang menjadi ruang tumbuh Partai Golkar.


Penulis: MAHYUDIN 
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Ketua Umum HKTI -Himpunan Kerukunan Tani Indonesia-
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar 2009-2015

Bagikan Post


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar