Porto

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Film Favorit Mahyudin

Kemarin, 30 Maret 2016 adalah peringatan Hari Film Nasional ke-66. Dalam sebuah wawancara dengan harian ternama di Indonesia, Wakil Ketua MPR Mahyudin sangat mengapresiasi perjuangan Usmar Ismail dalam merintis eksistensi dunia perfilman Indonesia. Bahkan pemerintah pernah menganugerahi Bintang Budaya Parama Dharma. Lebih lanjut, beliau menyebut agar para insan perfilman mengajukan Usmar Ismail untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.


Dalam kesempatan itu, politisi muda Golkar ini berharap para sineas Indonesia semakin semangat berkarya menghasilkan film-film lokal berkelas yang mampu bersaing di dunia internasional. Setelah wawancara, saya mencoba bertanya perihal film favoritnya, Mahyudin menyebut 2 judul film nasional, salah satunya adalah film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Saat ditanya alasannya, mantan Bupati Kutai Timur ini menyebut 5 hal ini yang melandasinya menjadikan film ini sebagai favorit.


Pertama, Adaptasi novel sastra karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA). HAMKA adalah salah satu diantara beberapa idola masa kecil Mahyudin. Selain meneladani karakter positif HAMKA, ia pun menyukai beberapa novel klasik karya HAMKA, seperti: Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Untuk novel yang terakhir bahkan disebut kritikus sastra Bakrie Siregar sebagai karya sastra terbaik HAMKA. Karena itulah Mahyudin menyukai film yang diangkat dari novel terbaik karya HAMKA yang diterbitkan tahun 1938 ini.


Kedua, Kaya akan nilai-nilai budaya lokal. Mahyudin menyebutkan bahwa film ini kaya akan pembahasan tradisi minangkabau yang bertabrakan dengan istiadat bugis. HAMKA mengkritisi budaya matrilineal minangkabau yang menuntut kesempurnaan wanita dan perbedaan perlakuan terhadap nasab campur. HAMKA menganggap itu tak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang cukup membumi di Sumatera Barat. Bagi politisi muda Golkar, pertentangan budaya yang sering terjadi dalam keseharian seperti ini sangat menarik diangkat ke layar kaca.


Ketiga, Pemilihan pemeran yang tepat. Herjunot Ali (sebagai Zainudin), Pevita Pearce (sebagai Hayati) dan Reza Rahadian (sebagai Aziz), 3 tokoh utama dalam film ini berhasil mengeksplorasi dengan baik karakter yang ingin dikeluarkan dari novel tersebut. Mereka mampu menuturkan dialog-dialog yang menarik dalam lantunan khas pantun Melayu dengan dialek khas Minangkabau. Totalitas ketiganya membuat kita seakan ada di dekat mereka dan mendengarkan mereka berbincang. Mahyudin menambahkan bahwa Pevita bermain anggun memerankan wanita bangsawan yang berusaha menjadi istri yang baik. Tak salah Indonesia Choice Awards dan Festival Film Bandung mengganjarnya sebagai pemeran utama wanita terbaik.


Keempat, Efek visual yang memikat. Latar masa lalu yang cukup detil tentu saja butuh usaha besar dan dana yang tidak sedikit. Bahkan replika kapal Van Der Wijck dibuat khusus dengan memesan langsung dari Belanda agar tampak nyata. Selain itu seluruh kostum dan busana yang digunakan di film ini dipercayakan pada perancang ternama; Samuel Wattimena. Sehingga meski terkesan lusuh dan tua tapi tetap tampak resik dan memesona. Bagi Mahyudin, visual efek yang disajikan Eltra Studio terasa hidup dan tak membosankan sehingga sangat tepat diganjar sebagai yang terbaik di Festival Film Bandung 2014.


Terakhir, Faktor Nidji! Kenapa? Soundtrack dan ilustrasi musik yang disajikan Giring bersama teman-temannya dengan konsep pop britania menampilkan kesa mewah, megah dan kolosal. Single Sumpah dan Cinta Matiku menyayat hati hingga menguras air mata penonton. Memang, menurut Mahyudin musik menjadi elemen terpenting dalam film ini karena memudahkan kita memahami alur cerita dengan lebih mudah.


Buat yang penasaran dengan film favorit mantan bupati Kutai Timur ini, DVD originalnya sudah banyak beredar. Di televisi, SCTV yang mempunyai kehormatan memutarnya pertama di layar kaca beberapa bulan lalu. Semoga saja, bertolak dari Hari Perfilman Nasional 2016, ke depannya semakin banyak film-film nasional yang bermutu dan mampu bersaing di level internasional. Apalagi, sekarang pemerintah sudah membentuk Badan Ekonomi Kreatif yang memiliki anggaran cukup besar untuk membina para sineas kita. Semoga.

Bagikan Post


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar